TB dan HIV, Pasangan Duet yang Mematikan

TB dan HIV, Pasangan Duet yang Mematikan - Kesehatan itu mahal harganya. Nilainya baru kita sadari saat kita kehilangannya. Untuk itu, perlu dijaga baik-baik kesehatan tubuh kita. Jangan sampai anda terjangkit penyakit yang satu ini. Pasangan duet yang mematikan dan menjadi masalah kesehatan utama di dunia hingga saat ini. Ialah TB dan HIV. Keduanya bukan pilihan dan keduanya harus kita hindari.

Diperkirakan pada tahun 2012, 13% dari penderita penyakit Tuberkulosis di dunia adalah HIV positif. Munculnya pasangan duet mematikan HIV dan AIDS di dunia menambah permasalahan TB. Ko-infeksi dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) akan meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan.

Mari kita bedah satu persatu permasalahan mengenai Ko-infeksi TB-HIV lebih dalam.

Apa Itu Ko-Infeksi TB-HIV?
Tuberkulosis (TB) adalah penyebab kematian utama pada pasien yang hidup dengan status HIV positif, dan hal ini sudah merupakan tantangan global bagi seluruh dunia kesehatan. TB secara konsisten menyebabkan kematian yang cukup besar pada orang yang hidup dengan HIV, terutama di negara-negara berkembang di wilayah Asia Tenggara dan Afrika.

TB dan HIV, Pasangan Duet yang Mematikan

Di Indonesia, TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia setelah India dan Cina. Masalah kesehatan tersebut semakin bertambah kompleks akibat infeksi human immunodeficiency virus (HIV). Human immunodeficiency virus (HIV) tidak hanya mempersulit diagnosis TB, tetapi juga meningkatkan terjangkitnya TB.

Bagaimana Mendiagnosis Penderita TB-HIV?
Penting bagi kita untuk mengetahui sedini mungkin kondisi kesehatan tubuh kita. Kita harus pandai mengetahui gejala-gejala penyakit yang mungkin tergolong berbahaya dan harus segera disembuhkan, tak terkecuali TB-HIV. Mendiagnosis ko-infeksi TB-HIV prinsipnya sama dengan penderita TB tanpa HIV. Langkah-langkah yang perlu dilakukan antara lain :

1. Anamnesis
Gejala tuberkulosis dibagi menjadi 2 golongan, yaitu gejala respiratorius dan gejala sistemik. Gejala respiratorius meliputi batuk kurang lebih selama 2 minggu, batuk disertai darah, sesak napas, dan nyeri dada. Gejala respiratorius ini bervariasi tergantung dari luas lesi. Gejala sistemik TB yaitu demam hilang timbul, malaise, keringat malam hari, anoreksia dan berat badan menurun. Baik gejala respiratorius dan sistemik TB dapat ditemukan pada penyakit lain, untuk itu diperlukan pemeriksaan lanjutan. Penderita yang dicurigai terinfeksi HIV/AIDS selain anamnesis tentang gejala yang berhubungan dengan infeksi HIV seperti demam lebih dari 1 bulan, berat badan turun, diare lebih dari 1 bulan juga harus ditanyakan tentang faktor risiko HIV/AIDS, antara lain riwayat pengguna jarum suntik, narkoba, riwayat suka berganti pasangan, riwayat transfusi, dan riwayat pekerjaan sebagai pekerja seks.

2. Pemeriksaan fisis 
Perlu dicatat keadaan umum, kesadaran dan status gizi pasien. Hasil pemeriksaan paru-paru tergantung luas kelainan paru-paru. Perlu diperiksa ada tidaknya pembesaran getah bening, keadaan mulut dan gigi, juga perlu diteliti apakah ada selaput putih, ulkus (kandidiasis) atau bercak berwarna keunguan akibat sarkoma kaposi serta tanda kaku kuduk yang dicurigai meningitis. Keadaan lengan dan tungkai juga perlu diperiksa apakah ada tanda-tanda bekas jarum suntik, bercak-bercak atau ulkus di kulit akibat sarkoma kaposi.

3. Pemeriksaan penunjang 
[+] Pemeriksaan bakteriologi
[+] Pemeriksaan radiologi
[+] Pemeriksaan penunjang lain.

TB dan HIV, Pasangan Duet yang Mematikan

Bagaimana Cara Mengobati Penyakit TB-HIV?
Sebenarnya pengobatan untuk pasien TB yang disertai HIV sama dengan pasien TB lainnya. Obat TB untuk pasien yang juga menderita HIV sama efektifnya bagi pasien TB tanpa HIV. Prinsip pengobatan pasien TB-HIV adalah dengan mendahulukan pengobatan TB dengan menggunakan kombinasi beberapa jenis obat dan dosis yang tepat serta dalam jangka waktu yang tepat. Pengobatan pasien TB-HIV sebaiknya diberikan secara terintegrasi dalam satu unit pelayanan kesehatan (UPK) untuk menjaga kepatuhan pengobatan.

Itulah poin-poin penting yang perlu anda ketahui untuk mengatasi masalah penyakit TB yang diderita oleh pasien HIV. Kenali terlebih dahulu apa itu ko-infeksi TB-HIV, setelah itu diagnosis gejalanya, dan terakhir terapkan pengobatannya. Lebih baik lagi jika anda tahu pencegahannya. Hindari interaksi dengan orang yang sedang batuk atau bersin dengan menutup hidung anda. Hilangkan juga kebiasaan merokok, karena merokok dapat melemahkan paru-paru dan mudah terjangkit TB. Jagalah kesehatanmu!

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba BLOG COMPETITION Temukan, Sembuhkan, Pasien TB Serial #5

Referensi :
http://www.tbindonesia.or.id/tb-hiv/
http://kesehatan-tb.blogspot.com/
http://kawanilmu.blogspot.com/2009/08/tb-dan-hiv.html

1 comments:

Hargai penulis dengan memberikan komentar yang baik dan mengklik iklan yang ada

Rules komentar :
1. No SPAM
2. No live link (link aktif)
3. Jika bertanya gunakan akun yang terdaftar
4. Komentar yang tidak pantas akan dihapus oleh admin

 
Top